Psychoblogology


Monday, 09.01.2006 10:07
Psychoblogology, Ilmu tentang Perilaku Blogger ?
Posted on Psychoblogology.

Membaca kilas balik 2005 yang dirangkum dengan cukup baik oleh Dhika, saya menjadi semakin yakin jika blog bukanlah sebuah trend sesaat. Fenomena blog semakin lama semakin terus berkembang seiring dengan dinamika perkembangan internet itu sendiri. Apakah benar bahwa blog semakin lama menjadi semakin serius seperti judul tulisan kilas balik yang diulas Dhika ataukah pada hakekatnya blog itu adalah suatu hal yang memang serius dari awal sampai sekarang? Mungkin bagi sebagian orang aktivitas blogging adalah aktivitas sampingan yang hanya memiliki nilai kesenangan semata, tapi mungkin bagi sebagian yang lain, aktivitas blogging merupakan suatu kebutuhan hidup dalam kesehariannya, entah sebagai pelepasan emosi, penyaluran ide pikiran, pengganti hubungan sosial, pencarian inspirasi individual ataukah sebagai sarana aktualisasi dirinya di dunia maya.

Dunia blog memang layaknya seperti dunia nyata yang penuh kompleksitas, sama seperti blogger itu sendiri yang merupakan manusia-manusia kompleks yang unik satu dengan yang lain. Kompleksitas yang diwujudkan dalam jutaan kata dari hasil pikir dan perilaku manusia penulisnya, yang saling berinteraksi satu sama lain dalam rupa komentar, sapaan ataupun komunikasi non verbal lainnya.


Kompleksitas dunia blog pada akhirnya akan membawa suatu akibat tertentu, bisa menjadi suatu solusi, namun dilain pihak bisa menjadi suatu masalah. Begitu banyak hal yang bisa dieksplorasi dalam dunia blog, oleh karena itu saya percaya jika suatu hari nanti ada ilmu khusus yang membahas tentang blog. Mungkin nama ilmu itu adalah blogology, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai segala sesuatunya tentang blog.

Bidang keilmuan saya di psikologi, mungkin akan lebih melihat dari sisi perilaku – perilaku manusia pemilik blog itu sendiri yang dikenal dengan blogger. Perilaku- perilaku unik blogger yang terekspresikan menjadi barisan kalimat-kalimat yang merupakan hasil olah pikir dan ekspresi emosi yang khas dari setiap individu.

Jadi mungkin dalam perkembangan selanjutnya, akan ada ilmu lainnya tentang blog yaitu psychoblogology, yang merupakan perkawinan antara psychology dan blogology. Kalau boleh saya mendefinisikan, maka definisi tentang psychoblogology adalah sebagai berikut :

Psychoblogology adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku blogger dalam berinteraksi dengan blognya, dengan sesama blogger maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Sebagaimana sebuah ilmu, tentunya blogology dan psychoblogology harus berupa pengetahuan dari hasil pemikiran yang tersusun secara sistematis dan obyektif sehingga dapat mencapai hakekatnya yaitu memajukan kesejahteraan manusia umumnya dan blogger pada khususnya.

Dengan demikian, saya yakin bahwa kedua ilmu itu akan menjadi penyeimbang atas penyesatan-penyesatan informasi tentang blog yang terkadang dilontarkan orang yang mengaku pakar di dunia maya. Apalagi budaya masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada takhyul daripada fakta yang sebenarnya sehingga blog masih dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, penuh kepalsuan, dan sekedar permainan katarsis belaka.

Begitupula jika terjadi suatu fenomena permasalahan di dunia blogger, psychoblogology dapat membantu untuk menjelaskan dan memahami segala sesuatu di balik perilaku blogger tersebut. Sehingga para pengambil keputusan dan juga masyarakat umum juga mampu membedakan antara ekspresi penghinaan dengan ekspresi humor dalam suatu blog.

Lalu, benarkah bahwa psychoblogology akan menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang populer? Bagaimana ruang lingkup teorinya? Bagaimana hakekat keilmuannya? Bagaimana metode penelitiannya?

Hahaha… Sampai sejauh ini, itu hanya rekaan pikiran saya saja. Entahlah jika beberapa tahun mendatang orang menjadi semakin serius untuk benar-benar mewujudkan keilmuan ini. Sama seperti blog yang mungkin akan semakin menjadi serius dan diperhitungkan di masa yang akan datang.

Tags: perilaku blogger, psikoblogologi


Read more...

Sejarah teknik batik


Sejarah teknik batik
Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.


Read more...

Apakah Anda Berpotensi menjadi Pemimpin?

Mari sejenak kita merenung sambil mencoba menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Donald A. Laird, seorang psikolog, berikut ini;

1. Apakah Anda mampu menegur tanpa menimbulkan kemarahan?
2. Apakah Anda mampu menolak tanpa mengecilkan arti?
3. Apakah Anda mampu tertawa bersama bila kelucuan itu menyangkut
diri Anda sendiri?
4. Apakah Anda mampu memelihara semangat jika menghadapi suatu
kegagalan?
5. Apakah Anda mampu tenang jika harus menghadapi situasi darurat?

Pertanyaan di atas merupakan cara pengukuran yang sederhana untuk menilai apakah seseorang berpotensi untuk menjadi pemimpin. Apabila jawaban anda adalah “mampu” untuk semua pertanyaan di atas, maka anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Selamat!




Read more...

Anda Lebih Penting Dari Masalah Anda

Anda Lebih Penting Dari Masalah Anda

March 25, 2009 · Filed Under Kata Motivasi by Resensinet

Proses pertumbuhan dan belajar selalu melibatkan resiko. Keberanian memberi anda kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan. Keberanian berasal dari pikiran anda yang jauh lebih bertenaga daripada lingkungan luar anda. Bila anda menyadari bahwa betapa besarnya anda dibanding persoalan yang ada, maka anda akan mendapatkan keberanian untuk mengatasinya.Rintangan akan selalu tampak besar atau kecil sesuai dengan penglihatan anda. Keberanian adalah kapasitas untuk menghadapi apa yang terbayangkan. Ia akan memberi anda kemampuan untuk mengatasi kenyataan.

Melewati rintangan adalah buah dari pencapaian, buah dari keberhasilan. Lihatlah persoalan sebagaimana yang anda inginkan, bukan sebagaimana yang tampak. (Daily Motivation)




Read more...

ambil resiko

Saat anda mengambil resiko, ada kemungkinan sangat nyata akan terjadinya kegagalan. Tetapi bila anda tidak mengambil resiko, anda sudah pasti gagal.

Memang, beberapa resiko tidak layak ditempuh, TAPI menghindari semua resiko, sama saja dengan menghindari hidup. Bangun pagi mengandung resiko. Pergi ke pasar mengandung resiko. Berkenalan mengandung resiko. Namun semua resiko ini masih cukup bernilai untuk ditempuh, karena resiko-resiko demikian mengikutkan imbalan yang berharga.

Mungkin anda akan mengambil suatu resiko, dan gagal. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti mengambil resiko. Belajarlah dari pengalaman dan maju terus. Waktu, kesempatan, dan sumber daya anda akan membusuk serta terbuang percuma bila anda digiring terus pada rasa takut kehilangan waktu dan kesempatan. Resiko terbesar adalah saat anda tidak berani ambil resiko.

Gunakan apa yang anda punya. Jangan biarkan takut akan resiko menjadi penyebab terbesar kegagalan anda. Hitung kembali. Ambil resiko, dan raihlah imbalan yang tersimpan di dalamnya.

Dari http://www.resensi.net/ambil-resiko

Read more...

KEPEMIMPINAN VISIONER


KEPEMIMPINAN VISIONER


Abstrak

Pemimpin yang memiliki kegesitan, kecepatan serta mampu beradaptasi dalam membawa jalannya organisasi memiliki peran yang penting dalam menghadapi kondisi organisasi yang senantiasa mengalami perubahan. Sebab, fleksibilitas organisasi pada dasarnya merupakan karya orang-orang yang mampu bertindak proaktif, kreatif, inovatif dan non konvensional. Pribadi-pribadi seperti inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin organisasi saat ini. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas ke arah mana organisasi akan di bawa.


Perubahan yang tak Terhindarkan
Terra incognita, demikian Alvin Toffler melukiskan milenium ketiga sebagai daerah yang tak dikenal yang merupakan bentangan masa depan yang tak terpetakan. Perspektif Newtonian mengenai perubahan yang linier dan dapat diramalkan telah usang, digantikan teori kekacauan (chaos theory). Menurut teori ini kehidupan merupakan pertemuan di mana satu peristiwa dapat mengubah peristiwa-peristiwa lain secara tak terduga, bahkan dapat menghancurkan. Perubahan terjadi secara tidak linier, diskontinu dan tak dapat diramalkan. Kehidupan bukanlah rangkaian peristiwa yang saling terkait dan susul-menyusul.
Gejolak perubahan yang berlangsung secara cepat mengakibatkan kesementaraan menjadi sifat hakiki dari kegiatan usaha di masa depan. Kegiatan bisnis menghadapi berbagai kondisi paradoksial yang penuh ketidakpastian. Organisasi-organisasi dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia dirongrong oleh faktor-faktor eksternal yang memaksa mereka untuk berubah secara drastis. Dalam bukunya : "The New Rules: How to Succeed in Today's Post-Corporate World", John P. Kotter (Tommy Sudjarwadi, 2003) menyebut empat penyebab utama yang memaksa organisasi untuk berubah. Keempat faktor tersebut adalah: perubahan teknologi, integrasi ekonomi internasional, kejenuhan pasar di negara-negara maju serta jatuhnya rezim komunis dan sosialis.
Inisiatif untuk melakukan perubahan dengan berbagai upaya sistematik, banyak dilakukan perusahaan. Hasil dari upaya-upaya ini banyak yang berhasil, namun banyak pula yang gagal. Ada delapan kesalahan yang sering dilakukan yang menyebabkan perusahaan mengalami kegagalan dalam melakukan perubahan besar yang diharapkan. Hal-hal tersebut menurut John P. Kotter (1996) dalam bukunya : "Leading Change" adalah :
1.Membiarkan rasa puas diri yang berlebihan. Perusahaan membiarkan para karyawan berada dalam zona nyaman terus menerus.
2.Gagal membentuk tim pengarah perubahan yang kuat. Perubahan didelegasikan terlalu jauh.
3.Menganggap remeh kekuatan suatu visi. Perusahaan tidak percaya kekuatan suatu visi, sehingga tidak cukup meluangkan waktu untuk membuat visi yang jelas. Visi hanya dianggap sekedar suatu pernyataan. Sekedar formalitas.
4.Visi tidak dikomunikasikan dengan baik.
5.Membiarkan rintangan yang menghadang pencapaian visi. Struktur organisasi, uraian jabatan, sistem penilaian prestasi serta mekanisme kenaikan gaji dan bonus seringkali menjadi habitat yang buruk untuk hidupnya visi yang baru.
6.Gagal mendapatkan kemenangan jangka pendek. Perubahan yang mendasar memerlukan waktu yang panjang. Dalam menjalaninya perlu dibuat sasaran-sasaran antara yang memungkinkan para karyawan merasa mencapai suatu keberhasilan dan berhak merayakannya sebagai kemenangan. Tanpa kemenangan jangka pendek, para karyawan akan frustasi dan gagal mencapai perubahan besar.
7.Terlalu cepat menyatakan kemenangan akhir. Suatu perubahan yang telah dicapai umumnya masih labil. Mudah sekali untuk kembali ke keadaan semula. Jika kemenangan akhir dinyatakan terlalu dini dan hasil perubahan tidak dijaga dengan baik, kembalinya perubahan yang telah terjadi ke kondisi semula sangat mungkin terjadi.
8.Gagal membakukan perubahan ke dalam budaya perusahaan. Budaya perusahaan diyakini sebagai kumpulan perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh para karyawan dalam kegiatan sehari-hari. Jika perubahan tidak dapat diabadikan ke dalam perilaku karyawan dalam kegiatan sehari-hari, maka lambat laun perubahan yang telah dicapai akan memudar.



Read more...

BLOGAHOLIC Part II

STADIUM 1
Biasanya menyerang mereka yang baru saj mempunyai blog. Gejalanya seperti ingin memiliki dan mulai terobsesi dengan bognya. Memasang apa saja yang berkaitan engan dirinya, mulai dari profil yang sempurna, foto yang sebagus mungkin, dan sebagainya. Bahkan ada obsesi mnaruh link-link blogger sebanyak-banyaknya
STADIUM 2
Pada level ini blogger akan merasa u gejala. Pertama mulai merasakan kalau template atau tmpilan blognya sudah kurang menarik karena terlalu biasa. Kondisi ini menyebabkan seseorang terobsesi menari-cari template yang baru mulai mengutak atk, copy paste kode html atau script dari blog lain, sampai minta ibuatkan template olh kenalan. Kedua obsesi untuk mengisi blognya semkin besar. Gejalanya seperti kebutuhan wajib untuk meng-update atau pembaruan setiap entry blognya
STADIUM 3
Virus ini semakin parah, setiap bangun pagi atau setiap datang ketempat kerja, hal yang pertama dipirkan adalah bagaimana membuat entry atau postingan baru pada hari ini. Berpuluh-puluh menit bahkan berjam-jam dihabiskan hanya untuk browsing atau mnguras otak demi menulis seuatu yang akan dipublikasikani blog, jika tidak terapai serasa ada yang kurang dalam dirinya
STADIUM 4
Jika dalam staium ini bisa dipastikan konisi yang bersangkutan sudah terinfeksi virus Blogaholicyang teramat berat
Gejalanya cukup mudah diktahui yaitu terobsesi memiliki banyak blog. Dengan banyak blok tentu efeknya akan akan banyak waktu yang ihabiskan untuk sekedar mengisi posingan terbaru , memperbaiki tampilan, menambah link, mengubah warna, dan sebagainya, tentunya perlu waktu yang tidak seikit untuk melakukan hal tesebut
STADIUM 5
Gejalanya semakin parah yaitu banyak waktu digunakan untuk ngeblog dibandingkan dengan kerja dalam sehari, bahkan sampai di rumah atau indekost



Read more...

Masukkan Code ini K1-9A45C7-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Lorem Ipsum


ShoutMix chat widget

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP